Tampilkan postingan dengan label curhat colongan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat colongan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juni 2014

Gabut

Entah sedang ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang aku nggak bisa menafsirkan itu apa. karena sesuatu itulah posting ini terbentuk.
kesal dan kalut jadi satu.
kesal karena dia nggak pernah mucul lagi, kalut karena aku pingin bisa lihat dia lagi.
pingin say hello tapi takut buanget no response. anjir tai banget sih hidup. tapi lo lebih tai :(


Selasa, 03 Juni 2014

This is what I think about the last few days

And finally, at this point i realize that i have done too much for him. The only next possible step to do is stop. Leave him alone and walk away. I have no more reason to stay, and that's a good reason to go, right? 

It’s not like Im giving up, and it’s not like i shouldn’t try. It’s just that i have to draw the line of determination from desperation.

Well, good luck and happy graduation. And last but least, the most difficult part to do, saying good bye and still hoping one day we’ll gonna meet up somewhere.



 “what is truly yours would eventually be yours, and what is not, no matter how hard you try, it will never be.”

Selasa, 20 Mei 2014

Untweet : Fvck you, or me?

Hari yang menyebalkan. Hari yang selama setahun lebih ini sangat tidak aku harapkan datang begitu cepat. Tapi akhirnya hari ini datang juga. Hari dimana dia resmi melepas statusnya sebagai pelajar.

Hari yang menyebalkan. Dengan berakhirnya hari ini maka dimulailah sebuah kehidupan yang kosong. Tidak ada lagi sosok yang bersinar, mengisi stok semangat dan bahagia dalam diri. Walau memang secara realita sosok itu sama sekali tidak menyemangati atau bahkan membahagiakanku.

Hari yang menyebalkan. Hari dimana aku mau gak mau harus melepaskan segala aspek tentang dirinya. Ini sungguh bukan perkara mudah, pikiran sepenuhnya mendukung tapi di dalam hati rasanya susah rela. Jika direnungkan, aku sudah nggak cukup tega untuk bertahan. Ini seharusnya menjadi waktu yang tepat untuk melepaskan.

Hari yang menyebalkan, rasanya begitu hina jika menyebut semua ini adalah syndrom jatuh cinta. Tapi hari ini aku berhasil membenarkan sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa jatuh cinta itu memuakkan. Jatuh cinta membuatku menganggap sesuatu yang bukan buat aku adalah buat aku. Jatuh cinta membuatku berani melakukan apa yang seharusnya tidak aku lakukan dan tidak pernah terpikirkan untuk bisa aku lakukan. Perbuatan-perbuatan bodoh diluar akal sehat, layaknya orang nekat dan kehilangan logika.

Untuk sekarang, yang bisa aku lakukan cuma menunggu. Menunggu waktu, kapan kira-kira aku dan dia akan dipertemukan kembali. Hingga saat itu datang, dan aku bisa membuktikan bahwa yang aku lakukan hanyalah mencoba untuk tulus, dan tidak menyerah meski terlihat bodoh.

Minggu, 18 Mei 2014

Viva Nevasca

Pic source : @TheNevasca2014
Akhirnya, event terbesar sekolah yang begitu gue tunggu ini datang juga. Yups, The Nevasca. Ini semacam acara pensi sekolah gitu. Gatau kenapa gue begitu excited dengan event ini. mungkin karena euphoria-nya lebih wow daripada yang sebelumnya. Selain itu menurut gue tema dan guest star nya keren banget. The Nevasca 2014 ini temanya Groovy Party dengan guest star Tangga. Sip banget kan ya, ala ala dugem gitu berasa anak gaul banget lah.

Event ini dihelat malam minggu kemaren tanggal 17 mei. Percaya deh dari awal sampe akhir, totally keren banget. Atmosfir semakin panas setelah DJ-nya keluar, dan terus bertambah sampai Tangga selesai manggung. Ditambah lighting nya yang disko abis. Keren sumpah pokoknya gue gak bohong.

Gak bisa dipungkiri, excitement gue sama event ini sedikit banyak disponsori oleh dia. Enggak, dia bukan panitia atau bahkan pengisi acara. Gue cuma pingin liat dia. Dia dateng sama siapa, pake baju apa, dateng jam berapa, pulang jam berapa, dia joget apa enggak. Rasa penasaran yang simpel dan gak penting sebenernya, tapi sangat menggebu-gebu. Apalagi beberapa hari lalu dia mengonfirmasi kedatangannya walau dengan embel-embel kata “paling”.

Excitement gue agak luntur di hari H pagi. Gue dapet kabar kalo dia gak jadi dateng karena satu alasan yang menurut gue bukan dia banget. Disitulah gue mikir kalo dia lagi ngebohongin gue. Ya, gue yang tidak mudah putus asa ini tetep keukeuh pasang mata jelalatan nyariin sosok dia selama acara berlangsung. Dan hasilnya negatif.

Yah, The Nevasca berlangsung sangat keren, gue sangat menikmati. Tapi ada kurang satu hal, dia.

Minggu, 04 Mei 2014

Untweet : I wish I had a delete button in my mind.

Sok tidak peduli, padahal aku sangat peduli, bahkan kelewat peduli

Sok berpikir negatif, padahal didalam hati berharap yang terjadi adalah sebaliknya

Sok menepis harapan yang timbul, padahal aku terus saja berharap

Sok tidak mau tau, tapi dalam hati bertanya tanya

Sok menyerah sebelum mencoba, nyatanya di akhir aku selalu mencoba

Aku sudah muak dengan semua sok-sokan yang memuakkan. Semua aku lakukan hanya karena aku gak sanggup. Gak sanggup untuk mengetahui kenyataan. Akan lebih menyakitkan jika aku terlalu jujur tentang apa yang sebenarnya aku ingini, sementara kenyataan yang terjadi adalah nol besar. 
Nyesek.

Sebenarnya aku mulai menyadari bahwa aku telah melakukan hal sia-sia dalam hidup. Ibarat kata menunggu kapan harimau menjadi vegetarian, menunggu yang tidak akan terjadi. Selanjutnya muncullah niatan menjauh sedikit demi sedikit, hingga akhirnya pada suatu hari nanti semua hal tentangnya akan biasa saja.

Tapi yang terjadi adalah semakin menjauh, semakin besar pula rasa penasaran yang datang. Semakin melupakan, entah kenapa refleksi tentangnya malah menjadi-jadi. 
Tolong aku.


"There’s always gonna be that person in your life that you can’t walk away from even if you know you have to."

Kamis, 24 April 2014

Untweet : Too much happiness will kill you, darl.


Sebuah postingan tentang dia lagi. Dia yang pikirannya sangat sulit ditebak. Dia yang bermuka dua. Dia yang beberapa hari lalu membuatku menjadi orang paling bahagia sedunia tiba-tiba hari ini menjadikanku orang paling tolol sedunia.

Sangatlah wajar bila aku begitu ingin tahu tentang bagaimana respon dia terhadap hadiah perpisahan dan kejujuran yang beberapa waktu lalu aku berikan kepadanya. Tapi, apa mau dikata. Boro-boro menanyakan hal itu, untuk sekedar menyapa pun tak ada balasan.

Perlu dia ketahui bahwa aku ini manusia, bukan sapi yang tak berotak. Aku punya otak, sehingga aku tahu pada WhatsApp terdapat fitur “last seen” yang memungkinkan aku mengetahui barang sedikit aktivitasmu.
Perlu dia tahu bahwa aku ini bukanlah robot gundam yang gak punya hati. Justru, pada saat seperti ini hatiku sedang bekerja maksimal. Sedang bahagia karena dia, dan tiba-tiba dijatuhkan karena dia juga. Jedanya sangat singkat sehingga sakitnya pun lebih terasa.

Bukan maksudku untuk terlalu bahagia karena kejadian langka waktu itu. Hanya saja hati, pikiran, dan seluruh tubuh ini belum sepenuhnya beranjak. Masih sering tanpa sadar hati dan pikiranku memutar ulang kejadian itu. Salahkah??

Memang melelahkan membangun prasangka dan hasilnya semua salah. Harapan vs kenyataan selamanya tidak akan menemukan pemenang. Harapan yang terlalu tinggi sangat tidak sebanding dengan kenyataan yang begitu memuakkan.

Dia yang tidak peduli bahkan tidak mau peduli memang tak akan bisa lagi dirubah. Lalu, untuk apa aku masih saja bertahan? Itulah pertanyaan yang sampai saat ini masih susah dianalogikan.

Andai dia membaca tulisan ini. Oh dear my pretty-little-bastard...


Berdebar

Dia, sesosok manusia yang begitu membuatku berdebar. Memang benar bahwa orang yang membuat kita berdebar kebanyakan adalah orang baru di kehidupan kita. Orang yang tidak kita kenal, dan begitu menarik bagi kita. Biasanya, hanya kelebihannya yang melekat dibenak kita.

Aku dan dia, biasanya terjebak dalam momen-momen yang gak disengaja. Seperti duduk bersebelahan, bertemunya sebuah tatapan, sampai berpapasan saat pulang sekolah. Semua kejadian itu membuat aku girang tidak terkira.

Hingga malam itu, di hari ulang tahunnya yang ke 18, setelah satu tahun lamanya dia membuatku deg-degan, aku bertemu langsung dengannya. Aku mengumpulkan seluruh nyaliku untuk memberikan dia sebuah hadiah perpisahan dan kejujuran. Perpisahan, karena tahun ini dia akan meninggalkan masa SMA-nya, sekaligus menghapuskan benih-benih kebahagiaanku tentangnya. Kejujuran, karena disitu aku menyelipkan sebuah kisahku tentang dia yang selama ini membuatku berdebar.
Malam itu, dibawah sinar lampu temaram. Aku melihat senyumnya yang ikhlas dan indah. Aku mendengar suaranya yang begitu tulus dan lembut. Entah, begitu berbeda dengan dia yang selama ini aku tahu.

Hingga pada malam itu, aku menapaki jalanan yang lengang disampingnya. Mengahabiskan 10 menit waktu hidupku untuk mengobrol dengannya. Menatap matanya dalam-dalam, merasakan atmosfer kebahagiaan yang sangat singkat. Hal sederhana yang begitu ingin aku lakukan, dan pada malam itu aku dengan puas melakukannya.

Tidak perlu canggung saat menatap matanya seperti hari-hari biasa, karena saat itu hanya ada aku dan dia. Begitu pula dengannya, begitu sering menatap tajam wajahku. Seakan sedang memahami sosok diriku yang entah kenapa begitu terobsesi akan dirinya. Semua terasa begitu indah, sampai aku dan dia harus berpisah jalan.

Aku sadar pertemuan itu adalah yang pertama sekaligus yang terakhir. Pertemuan singkat itu, akan selalu membekas di longterm memory-ku. Dan hingga detik ini, tiap aku memikirkan pertemuan itu, selalu muncul senyuman yang tiba-tiba datang entah darimana.


Sabtu, 05 April 2014

Saturday-night thinking


Confused. Should I give him a gift? I'm not anyone for him. He did not even recognize me. Why should I waste my money and my time to give him a gift.
But the problem is, my mind told me that I should. I have to give him a gift if I want to be a part of his life. It's a few more days remaining he will be gone from my life, continuing his life that have been so much different with me. There is nothing I can do to prevent this shit happens someday.
The opportunity to we meet are increasingly smaller, and perhaps not at all. So it means, he does not remember anything about myself. But at least, I have to try.
It's been sooo hard to me to collect the courage for it. I was too cowardly to all about him.
Why I was so hard to think about this and all the frills about him, while he does not even realize me at all.


"Don't wait for the perfect moment.
Take the moment and make it perfect."

Selasa, 01 April 2014

Fall into you

Diantara kita pasti pernah mengagumi sosok lawan jenis, entah karena kharismanya yang begitu indah atau kemampuannya dalam suatu bidang yang bikin kita angkat topi. Semakin larut kita mengaguminya membuat nggak sedikit dari kita yang mulanya cuman kagum tapi jadi fans sejati dia. Itu wajar kok, ngefans sama seseorang bisa jadi motivasi kita untuk lebih maju, lebih baik dari sebelumnya. Nggak jarang juga dari level ngefans itu naik jadi level suka, yaa mrepet dikit lah sama cinta. Ahayde. Yah masih wajar kok, sah sah aja kan ya. Kan yang nggak sah itu kalo kita ngerebut suami orang, bahaya tuh. E.

Gimana kalo fase diatas itu terjadi pada kita dan sebagai objeknya adalah orang yang nggak kita kenal. Nahlo, kalo gini ini namanya jatuh cinta diam diam. Posisi kita sebagai secret admirer. Kayaknya sebagian besar manusia di dunia ini pernah merasakan indahnya (dan pahitnya) jatuh cinta diam diam.

Pekerjaan menjadi secret admirer emang paling manis (sekaligus asem) sedunia. Ambil contoh aja seorang remaja cewek (untuk selanjutnya kita panggil dia Kendi) yang jatuh cinta diam diam sama seniornya di sekolah. Pasti si kendi ini kerjaannya di sekolah 30% belajar, 20% gosip bareng temennya, dan 50% modusin seniornya. Ingat kata pepatah, sambil menyelam minum es kelapa muda. Modus itu banyak jalannya bagi seorang secret admirer, termasuk si kendi. Ngelewatin kelas seniornya sambil tengok tengok dan pasang muka sok cool, tetep sok cool saat nemuin si seniornya lagi duduk di kelas ngobrol bareng temennya. Baru kalo udah berada radius 50 km dari kelasnya, si Kendi ini menggeliat kesenangan.

Bisa juga pas istirahat, si kendi ini duduk di pinggir lapangan ngeliatin cinta diam-diamnya lagi main bola bareng temennya. Dengan begitu nafsu makan akan bertambah karena melihat si target lagi keringetan seksi di depannya. Atau pas si target lagi bercanda bareng temennya, si kendi begitu menikmati senyumnya yang menawan. Membuat si kendi betah berjam-jam duduk di tempat yang sama. Ah my life is perfect, begitu pikir si kendi.

Mengendap endap, curi-curi pandang, membuang muka saat dia melihat kearah kita, tapi dalam hati senengnya luar biasa karena dengan dia melihat kita berarti dia menyadari keberadaan kita. Begitu sederhana.

Keingintahuan yang besar tentang segala hal tentangnya, hal itu yang membuat si kendi mengerahkan seluruh pulsa modem untuk stalking si dia. Tidak ada yang bisa mengalahkan  kemampuan stalking seorang secret admirer. Secret admirer seakan seorang hacker yang selalu berusaha melacak segala hal tentang si dia. Secret admirer seakan seorang host infotainment yang mengupas tuntas semua hal yang berkaitan dengan cinta diam diamnya.

Ada yang bilang bahwa secret admirer terlalu gampang bahagia. Iya, benar sekali. Bahagia yang semu. Bahagia yang cuma terjadi pada satu pihak; secret admirer itu sendiri. Sedangkan si sumber kebahagiaan kita itu tetep biasa aja sama kita. Atau bahkan nggak peduli. Atau bahkan yang lebih buruk; tidak menyadari keberadaan kita di dunia ini. Pahit.

Suatu saat si dia-yang-begitu-kita-kagumi akan hilang dari kehidupan. Itu pasti. Dan menurut salah satu sumber, nggak semuanya yang hilang dari kehidupan kita akan kembali pada suatu hari nanti. Yaudah, ilang ya ilang. Kalo kita masih terus diam, nggak pernah mau mencoba terus terang gimana kita ke dia, yaudah. Berarti cuma tinggal tunggu waktu itu datang dan kita gak bisa berbuat apa apa. Kehilangan sumber kebahagiaan yang sama sekali kita gak bisa mencegah. Hanya bisa meratapi dari jauh, karena kita emang bukan siapa siapanya dia.

Buat seluruh secret admirer di dunia, semangat. Jangan takut untuk bilang ke dia gimana perasaan kamu sama dia. Apa salahnya mencoba, kali aja dia juga ngerasa yang sama ke kamu (walaupun itu drama banget 
hahahah). Jangan tunggu sampai nenek kamu bisa salto di air, lakukan secepatnya sebelum terlambat. J

Ps: yang disebut sebagai Kendi diatas adalah saya sendiri.


Terima kasih.

Jumat, 28 Maret 2014

:):

Sunyi mempertegas kebisuan hati yang sulit terucap
Menjilat bagai api yang membara
Terpenjara dalam perasaan yang aku sendiri tak tau bagaimana datangnya
Aku hanya menjadi sebatas bayangan yang tak bisa menghilang
Walau terasa berat, tapi itulah aku
Terperangkap dalam kebodohan cinta yang tak bisa ku perjuangkan
Kini kamu hanyalah sebuah ilusi yang hanya bisa ku pandangi, tanpa bisa ku miliki

Sabtu, 17 Desember 2011

A-Be-Ge


Nyadar nggak sih kalo kamu sekarang udah gede? Kalo jawabanmu enggak, berarti itu perlu dipertanyakan . Apa yang membuat kamu nggak sadar kalo dirimu itu sudah gede?  Sekarang kamu sudah nggak dimandiin mama, udah nggak disuapin papa, udah nggak ditimang-timang nenek, whatever. Apakah bukti-bukti tersebut udah cukup agar kamu yakin kalo kamu udah gede? Belom, friend !
Buat yang cewek. Kalo kamu bepergian , di tas kamu isinya bukan lagi boneka Barbie dan sebangsanya, tapi sekarang kamu mengisinya dengan sisir,bedak, lip gloss, cermin, and the other same.
Buat  yang cowok. Mereka udah nggak hobby ngoleksi baju yang tampak depan gambarnya si ‘Bernard Bear’ atau ‘Spongebob Squarepants’. Mereka kalo mau beli baju mesti pergi ke distro. Beli baju-baju merek papan atas kayak inspired27, Cressida, dll (aku nggak ngerti kalo soal gitu)
Buat semua. Kita jadi ingin ‘lebih’ diperhatiin sama ortu, teman-teman, dan orang lain. Kita seolah kepingin agar mereka semua tau kalo kita udah gede, udah remaja, udah ngerti mode, udah bisa dandan, semmuanya !! yang jelas kita pengen semua orang tau bahwa, ini loh SAYA !!!
Itu wajar kok. Mungkin masa-masa tersebut yang disebut dengan masa-masa labil. Aku juga ngalamin hal yang kayak gitu. Asalkan nggak lebay, it’s oke !

Oleh : Utrujjah Rahmadian :P

Selasa, 06 Desember 2011

Metal Detector

Kejadian ini sebenernya mau aku kirimin ke majalah Bobo, tapi karena accident ini udah lama banget, akhirnya nggak jadi deh. Accident ini bikin dagdigdug serr... (apaan seh)

Dear Diare...

Bagi yang nggak tau, ini loh yang namanya Metal Detector

Ini pas pertama kali aku jadi anggota Perpustakaan Umum Kota Malang. Sebenernya udah dari kelas 4 SD aku kepingin jadi anggota, tapi baru kesampean pas kelas 6 SD. Hari itu hari Sabtu, Aku sama adekku lagi mbaca-mbaca di bawah. Tiba-tiba aku ngeliat komik favoritku, Miiko ! Aku langsung seneng dan buku itu aku bawa kemana-mana biar nggak diambil orang lain sampai aku pulang. Pas jam 14.00, aku sama adekku udah bosen dan laper. Akhirnya kita pulang. Sebelumnya, aku ke meja peminjaman buat minjem komik Miiko yang sedari tadi lengket sama tanganku. Udah selesai, aku sama adekku langsung naik ke lantai atas untuk njemput bapakku yang lagi mbaca disana. Aku sama adekku santai aja keatas sambil mbawa buku yang tadi kami pinjem di bawah. Setelah ketemu bapakku, kami langsung pulang. Di pintu keluar ruangan itu terdapat metal detector. Kami melewatinya dan... TIT... TIT... TIT... Alat itu berbunyi. Sama petugas perpustakaannya kami disuruh mbalik terus diperiksa, ternyata yang bikin bunyi itu buku yang tak pinjem dari bawah itu. Sumpah aku nggak ngerti, aku kudu nangis, lututku udah lemes, malu banget. Untung aku masih nyimpen kertas bukti peminjamannya, kalo enggak, wah bisa disangka pencuri aku.
Semenjak kejadian itu, setiap aku ke ruang atas dan melewati alat itu, aku selalu was-was. Aku takut kalo tiba-tiba bunyi kayak pas waktu itu...

Oleh : Utrujjah Rahmadian :P